Jumat, 22 November 2013

Mitra Kukar Kontrak Ravi dan Paulo Selama Empat Tahun





    Klub asal Kota Tenggarong, Mitra Kukar, mengontrak dua gelandang Timnas U-19 selama empat tahun lamanya. Keduanya adalah Ravi Murdianto dan Paolo Okto Sitanggang. Keduanya dipastikan akan menjadi bagian klub Mitra sejak dimulainya kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2014 musim depan.

Dikatakan Direktur Operasional Mitra Kukar Suwanto, kedua pemain tersebut sudah jadi incaran. Saat ini keduanya sudah benar-benar menyepakati kontrak kerja dengan durasi empat tahun ke depan.

"Selama empat tahun ke depan, kami sudah mengontrak Ravi dan Paulo, kami melihat penampilannya bersama timnas Indonesia U-19, dan kami menilai mereka sepadan untuk membela Mitra Kukar," kata Suwanto, Selasa (19/11/2013).

Dia menjelaskan, ketertarikan manajemen Mitra terhadap dua gelandang itu sejak pembentukan tim untuk musim 2014. Meski keduanya sudah didapatkan, namun Mitra tetap menghormati jadwal padat mereka untuk mengikuti pemusatan latihan untuk membela Timnas.

"Kami tidak akan mengganggu, selama mereka konsentrasi pada pemusatan latihan U-19," ujarnya.

Meski demikian, Suwanto juga menjelaskan jika pihaknya juga sudah sepakat dengan Badan Tim Nasional (BTN) terkati penggunaan kedua pemain itu. Keduanya bisa didatangkan ke Tenggarong jika tidak ada jadwal kesibukan di Timnas.

"Ya itu konsekuensi mengambil punggawa Timnas. Kami sudah berbicara dengan Ketua dan Sekretaris BTN. Kesepakatan kami, keduanya bisa dipakai saat ada jadwal latihan timnas yang kosong. Tapi saat launching tim nanti, keduanya dipastikan akan hadir untuk berkenalan dengan publik dimana Mitra Kukar berasal," imbuhnya.

Piala Asia U-19 akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2014 mendatang. Itu artinya, hingga akhir musim kompetisi ISL tahun depan, dua pemain ini masih harus berjuang untuk membela Timnas Indonesia.

Sebelumnya, diketahui Ravi tampil sangat baik saat menjaga gawang Indonesia di ajang Piala AFF 2013 lalu dan kualifikasi Piala Asia U-19. Demikian juga Paulo, gelandang yang satu ini mengawal lini tengah dengan baik.

Kini keduanya tengah konsentrasi pada pemusatan latihan persiapan mengikuti Piala Asia U-19 yang digelar di Myanmar, Oktober 2014 mendatang.

>>Kompas

Erick Weeks Gabung Mitra Kukar

Eric Weeks Gabung Mitra Kukar 



    Manajemen Mitra Kutai Kartanegara merekrut tiga pemain lokal untuk memperkuat skuad musim kompetisi 2013/2014. Empat pemain lokal yakni, mantan striker Naga Mekes musim lalu, Anindito Wahyu Erminarno, Zulfin Zamrun (adik Zulham Zamrun) dan penjaga gawang Dian Agus.
 
Untuk pemain asing, Erick Weeks Lewis juga sudah bergabung mengikuti trainning center (TC) di Lapangan Bea Cukai, Jakarta.  

"Untuk sementara, ada empat pemain lokal yang sudah bergabung di Jakarta. Karena sejak minggu lalu kita sudah TC di Lapangan Bea Cukai," kata Asisten Manager Mitra Kukar, Noor Alam, Jumat (22/11/2013). 
Menurut dia, tambahan empat pemain untuk memperkuat skud Naga Mekes yang ditinggalkan beberapa pemain intinya. Untuk gelandang bertahan, Erick Weeks Lewis disiapkan untuk menggantikan Ahmad Bustomi. 

Nama Erick Weeks diperebutkan beberapa klub besar seperti Arema Cronous dan beberapa klub lainnya. Penampilan Erick sebagai gelandang serang, mampu mengkreasikan peluang-peluang gol dan memanjakan striker melalui umpan-umpan matang. 

"Erick Weeks pemain gelandang yang musim lalu memperkuat Sriwijaya FC. Dia sudah gabung dengan kami dan sekarang sudah menjalani TC. Kemungkinan, Erick Weeks bisa mengisi posisi Bustomi, tapi yang menentukan itu sepenuhnya ada ditangan pelatih," jelas Noor Alam.

>>Tribunnews

Selasa, 12 November 2013

Sejarah Desa Separi ( Desa Tertua di Tenggarong Seberang ) dan Teluk Segunam (Kutai Kartanegara)

 


    Tersebutlah kisah dua orang suami istri bernama Gunam dan Ben. Kedua suami istri ini tinggal di sebuah kampung bernama Separi yang terletak di Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai.
Kehidupan suami istri Gunam dan Ben selain dari mengerjakan huma dan kebun, juga melakukan kerja sambilan berburu binatang dan memancing jukut (ikan) di sungai. Pakaian mereka terbuat dari kulit kayu jomok (pohon kayu yang kulitnya dapat dijadikan bahan pakaian/celana) untuk dijadikan selowar (celana) atau ulap (kain/tapih).
Seperti biasa dilakukan selama bertahun-tahun, pagi-pagi benar Ben sudah pergi ke huma dan pulang saat senja hari. Rupanya Sangyang telah memberi mereka rezeki, karena huma tahun mereka menghasilkan padi yang cukup banyak. Demikian pula dengan para tentangga Ben sekampung. Teramat senang dan suka cita penduduk benua.
Sudah menjadi adat tradisi kebiasaan penduduk benua, setiap tahun mengadakan erau tahun yakni mengadakan erau tahunan (upacara/pesta adat), sebagai tanda terima kasih mereka terhadap Sangyang yang telah memberikan penduduk benua rezeki yang melimpah.
    Demikianlah setelah mengetam padi, lalu diadakan erau yang disebut erau benua. Seberapa besar ongkos biaya yang diperlukan tidak menjadi soal bagi mereka karena setiap kepala keluarga sekampung saling bergotong royong. Mereka mengumpulkan berbagai macam barang dan hewan berupa beras, sayuran, ayam, babi dan barang-barang yang lain demi terselenggaranya erau benua. Bagi mereka yang penting adalah erau benua berjalan lancar dan mereka dapat bersenang-senang. 
Adat tradisi erau diselenggarakan pada malam hari selama lima belas malam. Pada kesempatan itulah seluruh penduduk para istri dan suami, para gadis dan bujang, para janda dan duda berkesempatan mencari pasangan dan menentukan jodoh mereka, menentukan pilihan hidupnya untuk masa depan mereka. 
Akan tetapi tidak demikian dengan si Gunam, ia berniat hadir pada acara erau benua di malam terakhir saja, yaitu di hari yang ke lima belas. Sementara erau benua terus berlangsung, pada malam itu, Gunam pergi mencari jakut di sungai untuk makan bersama istrinya. “Ben, empa’i awak subuh-subuh bejerang, sebab aku hendak pergi mancing jakut ke sungai,” kata Gunam kepada istrinya.
Keesokan paginya setelah makan hambat (sarapan pagi), Gunam diatar istrinya pergi ke pinggir sungai untuk masuk ke dalam gubang lalu menghanyut ke hilir menuruti arus Sungai Mahakam. Gunam mulai melempar dan melabuh pantawnya (pancing yang memakai pelampung gabus) beberapa buah. Dengan sabar Gunam mengawasi pantaw-pantawnya sambil berdoa dan mengharap agar pantawnya dimakan ikan.

Meskipun sudah setengah hari Gunam mengawasi pantawnya, tetapi mandik (tidak) seekor ikan yang mau memakan umpan pancingnya. “Sial benar awak hari ini, tak seekor jukut yang mau mematuk umpanku,” Gunam menggerutu sendiri. Akan tetapi, ia tetap bersabar dan terus berdoa kepada Sangyang agar diberikan rezeki untuk makan bersama istrinya.
Benar kata pepatah. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, karena tiba-tiba pancingnya dimakan jukut pari. Alangkah senang hatinya, ia pun segera membawa pulang ikan hasil pancingannya.
“Leh, buntut pari ini potok baik-baik dan awak salaikan. Dengan buntut pari ini, kendia pada malam penghabisan erau, akan kupepalkan pada gendang,” kata Gunam pada istrinya yang diam saja hanya menganggukkan kepalanya.
“Kanda, tidak cukupkah engan tangan dan jari-jarimu saja memepal gendang itu?” tanya istrinya, Ben  dengan tiba-tiba.
“Mandik, dinda Ben. Pada malam penghabisan itu etam (kita) harus habis-habisan, puas-puaskan, sampai semalam suntuk pun jadilah.” Jawab Gunam meyakinkan.
Demikianlah, hari-hari yang dinantikan pun sampai pada waktunya. Malam penghabisan penyelenggaraan erau benua yang dinanti-nantikan seluruh rakyat negeri pun tiba. Malam kelima belas, sebagai malam penghabisan erau sebenua itu diadakan. Di atas telampak yang kapasitas luasnya bisa menampung rakyat seluruh negeri, nampak hadir pasangan-pasangan suami-istri, anak-anak, gadis dan bujang sampai ke anak cucu. Ada yang berpakaian jomok, ada juga yang telanjang bulat. Semua asyik dengan lakonnya sendiri-sendiri. Ada yang minum tuak, ada pula yang makan daging panggang dengan lahapnya, namun satu sama lain tidaklah saling mengganggu. Masing-masing bebas memenuhi kemauan dan kehendaknya sendiri.
    Ketika keramaian pesta sedang asyik-asyiknya berlangsung, di tengah malam buta itu, maka tanpa setahu orang lain, Gunam mencoba dengan ekor jukut parinya memepal gendang itu. Baru beberapa kali ekor jukut pari itu itu dipepalkan, serta merta keadaan malam yang kelam jadi berubah. Dengan tiba-tiba datanglah kilat memancarkan cahaya terang disertai bunyi petir sambung-menyambung. Orang-orang yang menyaksikan menjadi sangat ngeri dan teramat ketakutan. Beberapa orang ada yang berkata, “Nah, kita semua disumpahi dan dikutuk Sangyang. Ini akibat memukul gendang dengan ekor jukut pari. Macam-macam aja polahnya, etam segalanya kena juga balanya.”  
    Pancaran kilat dan bunyi petir yang tak henti-hentinya itu hampir saja menyambar tubuh Gunam. Ia berlari terus berlari mengikuti jalan yang berkelok-kelok. Akhirnya sampailah pada sebuah pohon haur kuning yang ada di pinggir sungai. Karena letih ia berhenti untuk melepaskan lelah. Sementara itu ia jadi teringat, bahwa di dalam bumbung buluh peroko’anannya (tempat rokok terbuat dari bambu) yang tergantung di pinggangnya terdapat batu penetek leban. Segera diambilnya batu tersebut lalu digosokkan pada purun haur, sehingga muncul api. Karena itu kilat dan petir jadi berhenti mengejar dirinya. Gunam pun terhindar dari bahaya yang mengancam jiwanya itu.
    Menurut cerita, jalan bekas Gunam berlari saat dikejar cahaya petir dan kilat di kampung Separi sampai sekarang masih terdapat tumpukan batu panjang berkelok-kelok.  Sedangkan masyarakat negeri yang ada di arena telampak erau benua semuanya menjadi batu karena terkena kutukan Sangyang. Dan tempat itu dinamakan Gua Batu/Batu Gelap. Di dalam gua batu tersebut terdapat baroh (danau kecil) yang dihuni oleh jukut atau ikan baung berwarna kuning sebesar lengan manusia.  Sedangkan, orang-orang yang telah dikutuk Sangyang menjadi batu bentuknya ada yang tampak sedang menyesui anaknya, berjerang, dan ada juga yang tubuhnya telanjang bulat. 
Demikian cerita legenda rakyat kutai yang sekarang ini hampir punah dan sudah banyak dilupakan. Menceritakan asal terjadinya kampung Separi yang berasal dari seekor ikan pari dan teluk Segunam yang berasal dari nama Si Gunam. 
Referensi:
Depdikbud, "Kumpulan Cerita Rakyat Kutai", Pemda Kabupaten Kutai 1979

>>Dan Dari Cerita Para Tetua Masyarakat Separi

Hacker Indonesia Jebol Situs Badan Intelijen Australia

Kelompok hacker bersumpah akan menyerang situs pemerintah Australia.

 

Hacker Indonesia jebol situs Badan Layanan Intelijen Rahasia Australia (ASIS). (foto ilustrasi hacker) 

 

     Sumpah para peretas asal Indonesia untuk terus menggempur beberapa situs pemerintahan Negeri Kanguru, bukan sekedar isapan jempol belaka. Salah satu yang berhasil dibuat kolaps yakni situs Badan Layanan Intelijen Rahasia Australia (ASIS) yang beralamat di asis.gov.au.


Harian Sydney Morning Herald (SMH), Senin 11 November 2013 melansir situs tersebut sudah tidak dapat diakses sejak beberapa hari lalu. Bahkan, ketika mereka mencoba mengaksesnya pada Senin sore kemarin, situs itu masih kolaps dan tidak menunjukkan tampilan apapun.

Peneliti dan Pendiri ICT Institut, Heru Sutadi, turut membenarkan adanya serangan itu.

Dihubungi VIVAnews melalui sambungan telepon, dia menyebut ada satu kelompok peretas yang menamakan diri Indonesian Security Down (ISD) Team diyakini sebagai otak di balik penyerangan situs milik intelijen Australia.

"Mereka mulai melakukan serangan tersebut pada hari Jumat malam pekan lalu. Serangan mulai dilakukan sekitar pukul 20.00 WIB dan berlangsung selama dua setengah jam. Saat itu juga situs ASIS kolaps dan down," ujar Heru.

Serangan yang digunakan ISD Team, lanjut Heru, yakni Denial of Service (DOS).

"Artinya, sekelompok peretas yang terdiri 500 hingga seribu hacker secara bersama-sama menyerang satu situs yang sama. Mereka menyerang dengan paket-paket data secara bersamaan sehingga server situs yang bersangkutan kewalahan lalu down," kata Heru menjelaskan.

Serangan DOS, ujar Heru, berbeda dengan hanya mengganti tampilan sebuah situs.

Tidak sampai di situ, target lain yang diserang para peretas Indonesia yakni situs Badan Layanan Intelijen Nasional Australia (ASIO), beralamat di asio.gov.au. Menurut Heru, serangan dilakukan pada hari Sabtu malam pekan lalu.

"Efek untuk situs ASIO sudah mulai terasa pada Selasa pagi ini," kata dia.

Target ketiga yang diserang yakni situs Direktorat Sinyal Australia (ASD). Badan intelijen ini diyakini berada di balik aksi spionase Australia dengan membangun pos penyadapan di dalam gedung Kedutaan.

Kemudian VIVAnews mencoba mengecek ketiga situs badan intelijen Australia itu. Hasilnya satu situs ASIS yang hingga kini belum dapat diakses. Sementara untuk situs ASIO dan ASD, sudah dapat diakses oleh publik.

Heru mengakui situs ASIO dan ASD memang lebih sulit untuk diretas ketimbang ASIS.

"Secara intelijen, kedua situs tadi memang lebih siap ketimbang ASIS," kata dia.

Penyerangan terhadap ketiga situs itu sesuai saran yang diberikan oleh kelompok Anonymous Australia. Dalam sebuah video di situs Cyber War News, Anonymous Australia meminta supaya para peretas asal Indonesia tak lagi menyasar situs non pemerintah seperti badan amal, pengusaha dan rumah sakit.

"Situs-situs bisnis yang tak terkait masalah ini, seharusnya tidak diserang. Kami meminta sebagai sesama saudara agar fokus kepada target utama Anda, Pemerintah dan Badan Intelijen. Jangan libatkan pihak lain masuk ke dalam masalah ini" tulis Anonymous Australia dalam video itu.

Mereka mengancam akan terjadi perang cyber, apabila imbauan itu tak juga dituruti. Mereka lantas menyarankan supaya para peretas Indonesia hanya menyasar situs-situs milik Pemerintah Australia saja.

"Karena adanya etika di antara sesama hacker dan juga menghormati kelompok Anonymous Australia, maka mereka mengikuti imbauan itu," kata Heru.

Namun Heru membantah adanya pemberitaan yang menyebut Anonymous Australia akan membantu aksi para peretas Indonesia. "Tidak ada bantuan apa pun. Hacker Indonesia melakukan aksi itu sendiri," Heru menegaskan.

Menurut dia, motif di balik aksi hacking ini murni karena geram terhadap sikap Pemerintah Australia yang mengganggu kedaulatan dengan menyadap komunikasi para pejabat Indonesia.

"Mereka juga kesal dengan sikap Pemerintahan kita yang cenderung lembek dalam menghadapi isu spionase ini. Oleh sebab itu mereka mengaku akan terus menyerang, kecuali ada permintaan maaf resmi dari Pemerintah Australia," ujar Heru.

Selain ISD Team, sumpah serupa juga diucap kelompok Indonesian Cyber Army dan Java Cyber Army.

Heru menyebut pertimbangan memilih ketiga situs Badan Intelijen itu, bukan tanpa pemikiran. Sebelum menyerang, kelompok hacker Indonesia sudah memikirkan konsekuensi jika situs Badan Intelijen Indonesia akan diserang balik oleh hacker dari Australia.

"Namun, hingga sejauh ini sih belum ada konfirmasi adanya serangan balik dari pihak hacker atau badan intelijen Australia," tuturnya.

Mengapa Heru bisa mengetahui adanya kronologi penyerangan para peretas tersebut? Dia mengaku hanya memantau komunikasi kelompok-kelompok tersebut melalui Twitter.

"Jadi saya tidak terlibat dalam aksi hacking tersebut. Ketemu orang-orang di balik kelompok itu juga belum pernah," ujar Heru.

Juru Bicara Kepolisian Federal Australia yang dihubungi SMH, mengaku peristiwa peretasan situs ASIS sama sekali tidak terkait dengan mereka. Sementara Departemen Luar Negeri dan Perdagangan yang memiliki kewenangan untuk mengawasi ASIS menolak berkomentar. Reaksi serupa juga disampaikan oleh Perwakilan Australia di Indonesia. 

>>Vivanews

Tragedi Luwu, Potret Buram Pemekaran Daerah

Mereka mempertanyakan keseriusan pemda soal pemekaran Luwu Tengah

 

 Ricuh Pemekaran Luwu, Massa Bentrok dengan Polisi 

  

    Ratusan anggota kepolisian merangsek blokade warga di Jalan Trans Sulawesi, Selasa 12 November 2013. Langkah mereka tegas. Tujuannya, membubarkan warga yang memblokade jalan itu sebagai bentuk protes atas gagalnya pemekaran Kabupaten Luwu Tengah. 

Warga marah karena dalam Rancangan Undang-Undang yang akan dibahas DPR dan pemerintah terkait pemekaran 65 daerah otonomi baru (DOB), Luwu Tengah tak termasuk di dalamnya. Mereka mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah dalam mewujudkan pemekaran Luwu Tengah.
 
Unjuk rasa menutut pemekaran Kabupaten Luwu menjadi Kabupaten Luwu Tengah merupakan gerakan rakyat dan mengklaim bahwa aksi ini telah mendapat dukungan dari 60 kepala desa di Walenrang Lamasi. 

Warga diperkirakan dari 60 desa ini bergabung bersama mahasiswa melakukan unjuk rasa sejak Senin kemarin. Mereka menuntut pemekaran wilayah dengan cara memblokir jalur Trans Sulawesi. Sudah 10 tahun warga memperjuangkan aspirasi mereka untuk pemekaran daerah. 

Emosi warga tak terkendali ketika polisi menertibkan mereka. Mereka menyerang petugas, melempari polisi dengan bom molotov, bahkan menembak polisi dengan senapan angin. Seorang warga dikabarkan tewas dalam bentrokan tersebut. 

Menurut warga, korban meninggal bernama Candra. Dia terkena tembakan peluru tajam polisi pada dada kirinya. Dari pantauan, saat jenazah korban dibawa dengan menggunakan mobil polisi, dua anak korban dan istrinya menangis histeris dan berusaha agar jenazah keluarga mereka tidak dibawa.

Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan membenarkan ada satu warga Walenrang Lamasi, Kabupaten Luwu yang meninggal saat bentrokan tersebut. Namun, polisi belum mau menjelaskan apa yang menyebakan warga tersebut meninggal. 

"Kalau mengatakan korban ada satu orang. Saya lihat memang meninggal, tapi karena apa belum jelas. Tapi kami juga dihadapi dengan senjata api, molotov, panah, badik. Anggota kami juga ada yang kena," kata Wakapolda Sulsel, Brigjen Ike Edwin.

Ike Edwin menegaskan, polisi melakukan tindakan tegas akibat aksi unjuk rasa ini telah mengganggu kamtibmas. Sudah dua hari warga menutup jalan Trans Sulawesi.

"Ini jalur lintas Trans Sulawesi tertutup, macet sudah 17 km. Semua akses ke Sulawesi Utara, Tengah, Tengara dan Gorontalo terhenti. Sudah ditutup dua hari," katanya. 

"Hari ini kami sudah enam kali negosiasi. Jalan sudah macet parah dan tidak mau dibuka. Kami ambil tindakan tegas." 

Hingga petang hari, Polisi mengamankan enam orang yang diduga berperan sebagai provokator pemicu bentrok. 

Kepala Kepolisian RI Komjen Pol Sutarman saat ditemui di Kompleks Istana Negara, Jakarta, mengungkapkan, informasi sementara akibat bentrokan tersebut sebanyak 14 petugas polisi dan empat pengunjuk rasa terluka.

Para korban tersebut, menurut dia, terluka akibat lemparan batu dan molotov yang digunakan para pengunjuk rasa. Bahkan, lanjutnya, ada pengunjuk rasa yang membawa senjata rakitan.

Sekitar 1.000 personel aparat gabungan diturunkan untuk mengamankan unjuk rasa ini. Di antaranya, dua Satuan Setingkat Kompi (SSK) dari brimob yang berjumlah 250 personel, satu SSK TNI, dan petugas kepolisian setempat sebanyak 380 personel.

Kalah Pilkada Tuntut Pemekaran

Komjen Sutarman mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterima, permintaan pemekaran Kabupaten Luwu menjadi Luwu Tengah berawal dari konflik hasil Pilkada setempat. 

"Bupati yang sekarang menjabat dan wakilnya dulu kan berkompetisi (dengan pasangan Basmin Mattayang-Syukur Bijak), kemudian setelah perhitungan suara (Basmin-Syukur) menggugat (ke MK) dan juga dinyatakan kalah. Kemudian setelah dikalahkan, upaya unjuk rasa berubah akhirnya menjadi tuntutan pemekaran," ujarnya.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Luwu, pada September 2013 lalu menetapkan incumbent Andi ‘Cakka’ Mudzakkar bersama pasangannya Amru Saher sebagai bupati dan wakil bupati terpilih dalam rapat pleno rekapitulasi dan penetapan kandidat terpilih. Cakka-Amru menang dengan selisih 1.431 suara dari rival terberatnya, Basmin Mattayang-Syukur Bijak. 

Keputusan tersebut kemudian berbuntut pada gugatan Basmin-Syukur ke MK. Kelompok pendukung pasangan ini pun kemudian berunjukrasa menolak putusan KPU tersebut.

Unjuk rasa ini kemudian ditengarai melebar menjadi tuntutan pemekaran daerah Kabupaten Luwu menjadi Luwu Tengah. Proses pemekaran ditindaklanjuti hingga membentuk Pansus Persiapan Pembentukan DOB Luwu Tengah DPRD Sulawesi Selatan. Pansus ini diketuai Armin Mustamin Toputiri.

Armin menyatakan mereka telah menyerahkan usul tersebut kepada Komisi II DPR untuk dibahas lebih lanjut. Namun, hasil sidang paripurna DPR pada 24 Oktober lalu, ternyata usul tersebut tidak termasuk 65 calon Daerah Otonomi Baru (DOB).

Hal itu memicu demonstrasi hingga pemblokiran jalan lintas yang menghubungkan antar provinsi itu. Armin kemudian ke Jakarta untuk menginvestigasi persoalan tersebut dengan bertanya langsung ke Kementerian Dalam Negeri dan Komisi II DPR yang mengurus soal otonomi daerah. Belakangan dia tahu, ada pihak yang mengatakan berkas pemekaran Luwu Tengah hilang di Komisi II DPR. 

Wakil Ketua Komisi II DPR, Arif Wibowo, mengklarifikasi ihwal itu. Menurut Politisi PDIP ini, permohonan pemekaran daerah Luwu Tengah, Sulawesi Selatan, sudah dicabut dari Komisi Pemerintahan itu. Akhirnya, wilayah inipun tidak masuk dalam 65 daerah yang diusulkan dalam rapat Paripurna lalu.

Arif kemudian menjelaskan duduk persoalan penarikan permohonan pemekaran Luwu Tengah. Bermula saat beberapa anggota Komisi II DPR yang berasal dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan meminta pengajuan pemekaran daerah itu ditarik. "Infonya karena koordinasi dengan gubernur tidak sepakat," kata Arif di Gedung DPR, Selasa 12 November 2013.

Untuk itu, Arif mengusulkan, masyarakat Luwu menanyakan alasan penarikan permohonan ini langsung ke Gubernur Sulawesi Selatan dan anggota DPR dapil Sulawesi Selatan. "Langkah yang bisa ditempuh masyarakat mengkonfirmasi gubernur, DPRD dan DPR dapil sana. Kenapa kok ditarik," ujar dia.

Untuk diketahui, Pemerintah memutuskan moratorium pemekaran daerah setelah isu itu memanas akibat proses pemekaran daerah ketika itu menelan korban jiwa.

Ketua DPRD Sumatera Utara Abdul Aziz Angkat meninggal dunia di tengah demonstran yang menuntut pemekaran Provinsi Sumatera Utara. Mereka minta pembentukan Provinsi Tapanuli.

Meskipun pemerintah telah memoratorium pemekaran daerah sejak 2010, usulan baru terus mengalir. Mengapa? Karena usulan terbuka lewat tiga pintu, yaitu pemerintah, DPR, dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah).

Motif mengejar jabatan politik dibalik tuntutan pemekaran daerah pernah disampaikan Direktur Eksekutif Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), Robert Endi Jaweng, saat dihubungi VIVAnews, bulan lalu. 

”Bagi DPR, pilihan politiknya memang harus mekar. Dengan begitu mereka bisa mendistribusikan kader politik ke kursi jabatan politik,” ujar Endi.

Endi mengingatkan DPR akan temuan tim evaluasi pelaksanaan otonomi daerah yang dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri. Dimana 80% daerah otonom baru tidak mencapai tujuan pemekaran, yaitu menyejahterakan rakyat. Dalam skala 1-10, hanya ada dua daerah yang meraih nilai 6, yaitu Kabupaten Cimahi, Jawa Barat, dan Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Indikator penilaian itu adalah kesejahteraan rakyat, good governance, pelayanan publik, dan daya saing.

“Sebagian besar DOB masih harus menempuh jalan panjang untuk sukses atau dengan kata lain gagal,” katanya.

>>Vivanews

Sabtu, 09 November 2013

Posisi Raphael Maitimo di Mitra Kukar Kian Jelas

http://www.bolaindo.com/wp-content/uploads/2013/06/Raphael-Maitimo1.jpg


    Raphael Guilermo Eduardo Maitimo kini bisa bernafas lega. Posisinya di Mitra Kukar sudah jelas setelah manajemen Mitra Kukar mengabarkan bahwa kontraknya akan diperpanjang. Raphael mendapat 'kado manis' itu jelang lawatan ke Korea Utara. Kontrak Raphael dengan klub Mitra Kukar diperpanjang hingga akhir musim 2014.

"Saya akan menandatangani kontrak untuk setahun lagi di Mitra Kukar. Bos ingin saya bertahan," kata Raphael kepada Berita Kota Super Ball, Kamis (7/11/2013) malam, menjelang keberangkatan timnas ke Korea Utara (Korut).

Bos yang dimaksud Raphael adalah manajer Mitra, Roni Fauzan. Ia menjadi pengendali keluar-masuknya pemain ke Mitra. Musim lalu, Mitra finis di peringkat tiga, Liga Super Indonesia (ISL) 2012/13.

"Dan saya tidak bisa pergi karena mereka sangat baik. Sangat menghargai profesi. Selain itu, saya menikmati proses kerja bersama Stefan Hansson (pelatih Mitra)," ulas Raphael.
Pernyataan Raphael otomatis menggugurkan niat Arema Indonesia, Semen Padang, dan Persebaya, yang sempat dikabarkan tertarik meminang dirinya.

>>Tribunnews


Selasa, 01 Oktober 2013

Kukar Bangun 6 Jembatan

Mulai Dari kumala Hingga Tabang, Dan Untuk Jembatan Loa Kulu Telan Dana Rp.700 Milyar


COVER


     Pemerintah Kabupaten Kukar bakal menambah jumlah jembatan di Kukar. Setelah sebelumnya ada Jembatan Kartanegara yang kembali dibangun pasca runtuh 26 November 2011, ditambah dengan rencana pembangunan Jembatan Loa Kulu dengan dana APBN. Namun itu masih belum cukup. Kukar akan membangun jembatan pedestarian dari Tenggarong menuju Pulau Kumala dan Jembatan Martadipura di Kecamatan Kota Bangun. Selain itu Kukar akan mendirikan jembatan di Kecamatan Sebulu.

Bupati Kukar Rita Widyasari mengatakan, rencana pembangunan jembatan di Kecamatan Sebulu sudah memasuki tahap pembuatan detail engineering design (DED). “Insya Allah perencanaanya nanti dikerjakan 2014 dan  2015 pembangunan akan dilaksanakan,” katanya kemarin.
Ia mengatakan, pengerjaannya pembangunan jembatan di Kukar ini dilaksanakan secara bertahap. “Kami membangun satu persatu. Dengan jembatan ini  maka akan lebih mudah bagi masyarakat untuk menikmati akses jalan,” katanya.

Tidak sampai di situ, Pemkab juga berencana untuk membangun lagi jembatan di Hulu Mahakam. Jadi setidaknya ada enam jembatan bakal dibangun Pemkab Kukar.
“Enam jembatan itu adalah Jembatan Loa Kulu, Jembatan Kartanegara, Jembatan Kumala, Jembatan Martadipura, Jembatan Sebulu dan Jembatan Tabang,” katanya.

Untuk jembatan Loa Kulu, kata Rita, akan segera dilelang Oktober 2013 ini oleh Pemerintah pusat. “Saat ini, jembatan yang akan dibangun dengan empat jalur itu sudah memiliki dana Rp40 miliar dari APBN,” katanya.
Pembangunan Jembatan Loa Kulu akan menelan dana hingga Rp 700 miliar dan semua dana dari APBN. “Kami (Pemkab Kukar) sudah  menyumbang banyak. Sudah saatnya kami  meminta bangunan yang layak dan megah,” katanya.

Rita mengatakan, membangun suatu jembatan membutuhkan dana hingga ratusan miliar. Hanya pembangunan Jembatan Kartanegara saja yang dananya cukup ‘rendah’ yakni Rp191 miliar. Ini karena PT Hutama Karya (HK) sebagai pembangun dan pemelihara Jembatan Kartanegara yang lama yang telah runtuh, ingin membuktikan bahwa mereka bukanlah penyebab runtuhnya Jembatan Kartanegara 26 November 2011 silam.

Kemarin Rita bersama jajarannya meninjau progress pengerjaan Jembatan Kartanegara yang berdampingan dengan lokasi pembangunan Royal Word Plaza (RWP). Para pekerja sedang sibuk menyiapkan tiang pancang yang digunakan sebagai penguat pondasi jembatan.

“Saya ingin tahu sejauh mana progres pengerjaan jembatan dan saya sangat berharap jembatan ini yang sangat dinanti oleh masyarakat bisa selesai sesuai target,” kata Rita di lokasi.
Dari hasil laporan Dinas Bina Marga, bahwa tiang pancang jembatan sudah terpasang 30 tiang dari 40 tiang pancang yang akan dipasang. Dia berharap, semua proses pembangunan akan berjalan baik dan sejauh ini dari segi peralatan tidak ada masalah, karena semuanya sudah disiapkan yang terbaik.
“Insya Allah pada 2014 bangunan jembatan ini mulai kelihatan bentuknya,” terangnya.
Kontrak pembangunan Jembatan Kartanegara itu senilai Rp191 miliar dari APBD Kukar. Adapun tipe jembatan yakni “Continious Arch Bridge” atau jembatan pelengkung menerus dengan rangka baja, memiliki panjang keseluruhan 710 meter dengan bentang utama 470 meter dan memeiliki lebar 10,45 meter dengan lebar lajur lalu litas 7 meter.Untuk tipe pondasi tiang pancang yakni steel pipe atau tiang pancang baja. Jembatan ini nantinya terbentang setinggi 19 meter diatas permukaan air saat pasang tertinggi dengan lokasi pembangunan tepat pada bekas jemabatan yang ambruk 2011 lalu.

>>Korankaltim